Bentuk penganiayaan secara fisik tentu kita sangat maklum, antara lain menampar atau memukul. Sementara bentuk penganiayaan psikis, nampaknya bisa berwujud sangat luas. Termasuk di dalamnya adalah mengeluarkan kata-kata yang menyinggung perasaan, memanggil dengan julukan (:misal karena rambutnya keriting, lantas dipanggil kriwul), atau bentuk perlakuan dan ucapan lisan yang lain.
Sebagai guru tentu kita sangat maklum bahwa guru juga manusia, kelakuan siswa yang kadang membuat emosi memuncak bisa menyebabkan guru hilang kendali untuk tidak marah terhadap siswanya. Malah menurut teman yang kebetulan mengajar di sebuah sekolah menengah swasta di Jogjakarta, pernah suatu kali dia menegur siswanya yang membuat gaduh suasana belajar, malahan sang murid mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas (:ngabsen penghuni bonbin). Masih menurut teman guru tersebut, kalau dia sampai marah karena kesal dengan kelakuan anak didiknya, sang murid selalu mangsuli akan melaporkan guru tersebut ke KOMNAS perlindungan anak.
Pendidikan di sekolah kita kadang sudah kebolak-balik. Guru selalu khawatir kalau muridnya tidak lulus ujian nasional. Tapi menurut pendapat saya pribadi, saya lebih khawatir kalau murid saya tak mengenal apa itu sopan santun, budi pekerti luhur, atau tak memiliki ahlak dan moral yang baik. Sebab mestinya pekerti luhurlah yang harus mendarah daging di sanubari tiap anak didik kita. Setelah itu, barulah kita merasa nyaman untuk bisa mentransfer ilmu ke dalam otak setiap anak didik kita.
Masih menurut uraian teman tentang UU perlindungan anak tersebut, yang mesti dilakukan guru terhadap peserta didiknya adalah menciptakan suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Sebuah kalimat yang menurut saya kaya akan makna. Lantas, andai pembelajaran sudah diusahakan nyaman dan menyenangkan tapi masih membuat anak memperlakukan guru dengan semena-mena, mungkinkah perlu dibuat sebuah undang-undang untuk melindungi guru? Saya belum yakin, apakah di UUGD sudah memuat aturan teknis atau regulasi-regulasi tentang bagaimana semestinya guru bergaul dengan siswa.










